Senin, 03 Maret 2014

Puisi



Mencari Sejatiku

Ku ayunkan langkah kaki ini
Perlahan menyusuri jejak-jejak waktu
Mencoba merekam kembali lembaran - lembaran hari yang
telah lam aber lalau
sering kali jiwa terlena
serning kali raga ini terluka
sering juga suara hati bertanya
dapatkah langkah ini dapt menapaki jejaklangkah esok..?
dapatkah kaki ini terus kokoh dalam mengayun padabumi yang kupijak..?

ku tatap hamparan persada di atas samayang luas seakan tak adayang berawal…
seakan tak ada yang berawal…
demikian sangat luasnya hingga dapat ku dapati diri ini hanya setitik hitam…
membawa hati terlamun dalam balutan sedih…
sering akal pikiran berkata seenak benaknya…
seringkalinya bermain sekehendak hasratnya…
dalamcarut marut sketsa dalam gambar yang bergerak…

kucoba untuk terus menemukan tambahan hati sejatiku…
yang akan mengerti siapadiriku dan setiamenemaniku
di setiap langkahku..
(Novisal Bahar)

Puisi



Perpisahan ini

Mengertilah sejatinya aku menyayangimu
Pahamilah,  sejujurnya aku membutuhk
Rasakanlah getaran cinta yang masih tersimpan dalam sanubariku
Sadarilah hidup tak selamanya indah untukmu dan buatku

Menangislah ku tau kau mencintaiku
Tersnyumlah karna hatiku tetap menjadi milikmu
Tertawalah karana tawamu adalh kebahagiaanku
Renungkanlah aku pergi demi kebahagiaanmu.

Perpisaha ini memang menyakitkan
Tapi inilah kenyataannya
Tak ada yang sanggup abadikan
Semoga kita nanti disatukan tuhan.

Brdoa …
Tegar…
Sabar…
Dan ikhlas, kini yang aku lakukan.
(Novisal Bahar)

Puisi



Pujangga…

Mengapa aku terlahir sebagai pengaummu
tanpa bisa merasakan indahnya hidup bersamamu.
Bahagia untukku bisa mencintaimu tanpa engkau cintai,
walaupun disini aku telah banyak melelehkan lilin – lilin waktu berharap engkau menjamah hatiku, suatu saat meski aku kan mencintaimu hingga ujung nafasku yang telah menguap…
(Novisal Bahar)

Mencari Sejatiku
Ku ayunkan langkah kaki ini
Perlahan menyusuri jejak-jejak waktu
Mencoba merekam kembali lembaran - lembaran hari yang
telah lam aber lalau
sering kali jiwa terlena
serning kali raga ini terluka
sering juga suara hati bertanya
dapatkah langkah ini dapt menapaki jejaklangkah esok..?
dapatkah kaki ini terus kokoh dalam mengayun padabumi yang kupijak..?

ku tatap hamparan persada di atas samayang luas seakan tak adayang berawal…
seakan tak ada yang berawal…
demikian sangat luasnya hingga dapat ku dapati diri ini hanya setitik hitam…
membawa hati terlamun dalam balutan sedih…
sering akal pikiran berkata seenak benaknya…
seringkalinya bermain sekehendak hasratnya…
dalamcarut marut sketsa dalam gambar yang bergerak…

kucoba untuk terus menemukan tambahan hati sejatiku…
yang akan mengerti siapadiriku dan setiamenemaniku
di setiap langkahku..
(Novisal Bahar)