Senin, 17 Februari 2014

Cerita Banjir Nabi Nuh





Dibalik cerita banjir nabi nuh




Sekitar sembilan ribu tahun yang lalu, laut hitam yang berada dekat turki adalah sebuah danau air tawar. Di sekelilingnya banyak perbukitan yang hijau dan subur. Sangat cocok untuk usaha pertanian.




Lalu, sekitar 7.500 tahun lalu, zaman es berakhir. Es di kutub mencair  akibat suhu bumi semakin panas.permukaan laut naik. Air pun merambah kedaratan dengan kecepatan yang luar biasa.




Seperti apa kecepaan air laut masuk kedaratan saat itu? Para ahli Barat mengumpamakannya dengan sebuah dam yang jebol. Air seolah-olah berdesakan keluar. Kecepatannya kira-kira sama dengan 200 kali tenaga air yang menekan dinding dam Niagara.




Dalam satu hari, paras air laut naik sekitar enam inci. Manusia dan binatang yang hidup di sekitar laut laut hitam terpaks mengungsi ke gunung-gunung, karena air semakin lama semakin meniggi.




Cerita tentang aliran dahsyat air laut menuju daratan ini tentu saja mangingatkan kita pada kejadian besar di zaman Nabi Nuh. Apalagi, kurun waktu kejadian tersebut dengan masa hidupnya Nabi Nuh sama, yaitu 7 ribuan tahun lalu. Saat itu semua makhluk allah secara berpasang-pasangan naik kedalam bahtera besar yang dibuat Nuh atas perintah Allah. Setelah itu datanglah bah yang sangat besar, menghancurkan semua yang ada di daerah itu, kecuali Nabi Nuh dan pengikutnya yang setia.




Maka mereka mendustakan Nuh, kemudian kami selamatkan dia dan orang-orang yang bersamanya di dalam bahtera, dan kami tenggelamkan orang-orang yang mendustkan ayat-ayat kami. Sesunggunya mereka adalah kaum yang buta (mata hatinya).”(Surat Al-A’raf ayat 64). Genagan air yang sangat luas akibat banjir besar tersebut kini dikenal dengan laut hitam.




Kebenaran fenomena alam berupa banjir besar yang terjadi pada masa nabi Nuh ini banyak diungkap oleh ahli arkeologi. Pada 1922 sampai 1934, misalnya, seorang peneliti dari The British Museum dan University of pensylvania, Leonad Woolley, memimpin penggalian arkeologis di tengah padang psir antara Bagdad dengan Teluk Persia, ditempat yang diperkirakan dulunya pernah berdiri sebuah kota yang bernama Ur.




Hasilnya, Woolley dan timnya menemukan lapisan tanah yang berisi berbagai benda yang terbuat dari perunggu dan perak. Lapisan ini dalamnya kira-kira lima meter dari permukaan .




Ditengarai, benda-benda tersebut berasal dari bangsa Sumeria yang diperkirakan hidup sekitar 3.000 tahun sebelum Masehi. Mereka telah dapat membuat benda-benda dari logam.




Di bawah lapisan pertama itu ditemukan pula lapisan berisi deposit pasir dan tanah liat setebal 2,5 meter. Pada lapisan ini masih terdapat sisa-sisa hewan laut berukuran kecil. Para ahli memperkirakan lapisan kedua ini terbentuk endapan lumpur akibat banjir yang terjadi pada zaman Nabi Nuh.




Anggapan ini diperkuat oleh temuan benda-benda rumah tangga yang terbuat dari tembikar buatan tangan manusia di bawah lapisan pasir dan tanah liat. Tidak ditemukan benda logam satupun di lapisan itu. Diperkirakan benda-benda yang tertanam di lapisan ketiga ini adalah peninggalan masyarakat Sumeria kuno yang hidup di Zaman Batu.




Selanjutnya, Robert Ballard, peneliti Amerika Serikat pada 1977 melakukan penelitian di sisi Laut Hitam yang berbeda dengan lokasi penelitian Ryan dan Pitman. Ballard,  sempat kondang setelah berhasil menemukan bangkai kapal Titanic. Ia juga mengamati lansekap danau yang kini terkubur di perut Laut Hitam itu.




Dengan kapal keruknya, ballard menyerok kulit-kulit kerang yang bertebaran di garis pantai kuno itu. Kulit-kulit kerang itu kemudian diteliti. Hasilnya sangat mengejutkan. Ada dua kulit kerang yang berasal dari moluska air tawar yang sudah punah. Hewan itu diduga berasal dari era sebelum banjir, yaitu saat laut hitam masih berupa danau air tawar. Kira-kiran 7.460 sampai 15.500 tahun yang lalu. Dua moluska air tawar itu ternyata samadengan spesies yang hidup di Laut Kapista sekarang.




Rancanaya Ballar akan meneruskan pnelitian ini lewat ekspedisi bawah laut, dengan menggunakan Hercules. Sayangnya belum diketahui hasil penelitian lanjutan tersebut.




Setelah banjir besar pada masa Nabi Nuh tersebut terbukti ada, peryataan berikutnya adalah apakah banjir tersebut melanda seluruh permukaan bumi atau sebagian saja? Ilmuan Muslim, Harun Yahya, meyakini bahwa tak semua permukaan dunia tenggelam kala banjir besar itu terjadi, Melainkan hanya daerah Mesopotamia saja (kini termauk wilayah Iraq), khususnya di daerah lembah antara sungai Eufrat dan sungai Tigris.




Karena lembah itu demukian luasnya, kata Harun dalam salah satu situsnya, ketika terjadi hujan superlebat selama berhari-hari, melualah kedua sungai itu. Selanjutnya bisa ditebak, air menenggelamkan lembah, demikian banyaknya hingga lembah itu berubah seperti laut, menenggelamkan seluruh umat Nabi Nuh yang ingkar. Ada juga yang berpendapat banjir besar itu terjadi karena mencairnya salju dan es di puncak gunung dekat pemukiman Nuh.




Dalam perjanjian Lama disebutkan bahwa banjir besar pada masa Nabi Nuh menggenangi seluruh permukaan bumi. Teori ini praktis bertentangan dengan teori  yang di kemukakan oleh Harun Yahya dan beberapa ilmuan lain yang berpendapat bahwa banjir bah hanya terjadi di Mesopotamia saja.




Dua pakar dari Universitas Colmbia, Wlliam Ryan dan Walter Pitman, juga tak sependapat dengan teori ini. Menurut mereka dalam dalam Versi yang sedikit berbeda dengan Harun Yahya banjir dahsyat 7ribu tahun silam terjadi akibat runtuhnya bendungan alam di timur laut perairan Mediterania. Teori ini didasarkan pada sedimen dan topografi dasar Laut Hitam.




Akibat bendungan alam ini “jebol”, air laut Mediterania  mengalir deras ke lembah laut Hitam yang dulu yang masih berupa danau air tawar. Celah bendung yang bobol itu kini menjadi selat Bosporus.




Tentu saja kota-kota dan pedesaan yang berada di jalur banjir hancur berantakan. Permukaan air makin lama makin tinggi. Di beberapa tempat, permukaan Laut Hitam melebar 1,6 km per hari. Di daerah tebing-tebing karang permukaan air naik 15cm per hari.



Pada saat melakukan risetnya, Ryan dan Pitman hanya memfokuskan pada pantai utara Laut Hitam. Wilayah ini yang dulu terhantam kekuatan dahsyataliran air dari Bosporus. Lansekap pantai tua danau Laut Hitam di sana tampak terkoyak hebat.      

1 komentar: